Cinta yang agung adalah ketika kamu menitikkan air mata, dan masih perduli terhadapnya, dan ketika dia tidak memperdulikanmu, dan kamu masih menunggunya dengan setia…adalah ketika dia mulai mencintai yang lain, dan kamu masih bisa tersenyum dan sambil berkata ” AKU TURUT BAHAGIA”.
Senyum itu selalu tersungging manis, sampai saat ini pula senyum itu tetap ada. Kebahagian tergambar di dalamnya, yah..hari ini pernikahanmu dan seharusnya aku yang menemanimu duduk diatas kursi pengantin itu. Namun kenyataan bicara lain, kamu duduk bersama orang yang tak pernah kamu kenal sebelumnya. Orang yang tak pernah ada saat hari-harimu begitu sulit. Orang yang tak pernah jadi tempat bersandar ketika hatimu begitu sedih. Orang yang tak pernah menjadi tempat bercerita ketika rasamu gundah. Orang yang tak pernah menenangkanmu saat dirimu menangis. Hmmm..geli juga rasanya, betapa tololnya aku memikirkan kamu yang sudah jelas tak mungkin lagi kumiliki. Aku sadar kita begitu jauh berbeda, mungkin dia lebih pas dan pantas untuk menemanimu menjalani hari-hari hingga nanti.
Namun setidaknya aku pernah memiliki rasa itu bersamamu, sampai kapanpun rasa itu tetap ada dan akan aku sematkan dalam ruang yang pantas dalam rentang kehidupanku. Saat hari tunanganmu dulu, sebuah sms kamu kirim, dan mengharapkan aku tetap menjagamu meski tak bersama lagi dan dirimu telah menikah. Sedikit hancur aku membalas sms darimu, kukatakan kalau selesai sudah tugasku untuk menjagamu dan sekarang lebih ada yang berhak untuk mejagamu. Dengan keras kepala dirimu masih saja mengharapkan aku menjagamu dan tidak melupakanmu. Dalam hati aku hanya bisa berkata, bagaimana mungkin aku mampu melupakanmu jika aku sangat sayang dan mencintaimu. Semua hanya cerita dari kehidupan yang aku lakoni dan sekarang aku hanya bisa mengucapkan “safe to experience new life, with people which you love and correct people can make you happy born and mind ” Bahagia bersamamu...
Cinta memang tidak harus memiliki, Cinta ada dalam kekekalannya sendiri, Cinta abadi dalam ke-eksistensiannya sendiri. Cinta adalah induk dari pertautan semua rasa yang tanpa keperpihakan, Cinta ada bersama keagunganya sendiri, dan tak pernah hilang dan lapuk dengan rasa-rasa yang lain. Dan CINTA SEJATI tidak bersifat jasmani dan tidak pula hanya bersifat romantisme, CINTA SEJATI adalah kesediaan untuk menerima apa adanya dan kerelaan untuk menerima apa yang telah, apa yang akan dan apa yang tidak akan terjadi. Selamat Berbahagia Riska....aku kan selalu menyayangimu.
Sunday, December 21, 2008
Nyanyian Rindu
Coba engkau katakan padaku, apa yang seharusnya aku lakukan...bila larut tiba wajahmu terbayang, kerinduan ini semakin dalam,....
Lamat-lamat aku dengarkan lagunya kang Ebiet dari radio milik tetangga sebelah. Yah..sebuah Nyanyian Rindu, kalo kang Ebiet dalam lagunya itu ingin mengenang kenangan bersama seseorang yang sangat istimewa, kayaknya seh hehehehe…
Ya..Nyanyian rindu bukan hanya ditujukan sama sosok kekasih, istri tapi bisa keluarga, orang tua, anak, sahabat, bahkan kerinduan keriangan kita sewaktu anak-anak. Keriangan yang penuh suka-cita bersama orang-orang yang penuh arti dalam rentang perjalanan kehidupan kita, dan sekarang kita mungkin tak tau entah dimana dan bagaimana keadaannya.
Begitu juga dengan kenangan kita tentang damainya kehidupan masa kecil, meski teknologi tak secanggih jaman sekarang namun kita terkadang begitu merindukan nostalgia yang penuh nuansa kesederhanaan, ketenangan dan terkesan ndesoni. Masih teringat jelas, ketika bulan purnama tiba anak-anak saling berkejaran, bersenda gurau penuh keriangan. Maklum saat itu belum ada listrik dan hiburannya pun hanya bermain. Tidak seperti sekarang hiburan sudah begitu banyak. Televisi sudah menjadi barang biasa, tidak seperti dahulu televisi yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang kaya. Di ijinin nonton saja hanya seminggu sekali, itu saja mesti jalan sejauh satu kilometer dari rumah. Meski demikian, rasanya sudah amat senang ketimbang sekarang yang sudah punya televisi sendiri.
Yah…terkadang dalam penatnya dan kesumpekan atas keadaan jaman sekarang, kita sering merindukan suasana sunyi penuh ketenangan yang membawa rasa kedamaian dan kebahagiaan. Rasanya ingin sekali beristirahat sejenak dari desakan kekuatan tuntutan hidup yang seringkali mengaburkan langkah kehidupan kita. Kesibukan yang selalu kita lakoni demi sang Uang, yang terus saja memaksa kita untuk bergulat dengan waktu dan berbagai macam cara untuk mendapatkannya.
Semilir sejuknya angin gunung, kicauan merdu burung-burung saat mentari muncul diufuk timur, keceriaan para petani saat berangkat kesawah, suara-suara lenguhan lembu pembajak sawah, canda-tawa anak-anak kecil yang pada mandi disungai, langit yang merah merona di sebelah barat, menjadi suasana yang begitu kita rindukan ditengah bisingnya kendaraan dan gemerlapnya lampu kota.
Yah…nyanyian rindu kang Ebiet, serasa mengingatkan aku dengan suasana-suasana masa lampau yang penuh kedamaian. Bersama orang-orang yang begitu berarti dalam perjalanan kehidupanku.
Bagaimana dengan Anda???
Lamat-lamat aku dengarkan lagunya kang Ebiet dari radio milik tetangga sebelah. Yah..sebuah Nyanyian Rindu, kalo kang Ebiet dalam lagunya itu ingin mengenang kenangan bersama seseorang yang sangat istimewa, kayaknya seh hehehehe…
Ya..Nyanyian rindu bukan hanya ditujukan sama sosok kekasih, istri tapi bisa keluarga, orang tua, anak, sahabat, bahkan kerinduan keriangan kita sewaktu anak-anak. Keriangan yang penuh suka-cita bersama orang-orang yang penuh arti dalam rentang perjalanan kehidupan kita, dan sekarang kita mungkin tak tau entah dimana dan bagaimana keadaannya.
Begitu juga dengan kenangan kita tentang damainya kehidupan masa kecil, meski teknologi tak secanggih jaman sekarang namun kita terkadang begitu merindukan nostalgia yang penuh nuansa kesederhanaan, ketenangan dan terkesan ndesoni. Masih teringat jelas, ketika bulan purnama tiba anak-anak saling berkejaran, bersenda gurau penuh keriangan. Maklum saat itu belum ada listrik dan hiburannya pun hanya bermain. Tidak seperti sekarang hiburan sudah begitu banyak. Televisi sudah menjadi barang biasa, tidak seperti dahulu televisi yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang kaya. Di ijinin nonton saja hanya seminggu sekali, itu saja mesti jalan sejauh satu kilometer dari rumah. Meski demikian, rasanya sudah amat senang ketimbang sekarang yang sudah punya televisi sendiri.
Yah…terkadang dalam penatnya dan kesumpekan atas keadaan jaman sekarang, kita sering merindukan suasana sunyi penuh ketenangan yang membawa rasa kedamaian dan kebahagiaan. Rasanya ingin sekali beristirahat sejenak dari desakan kekuatan tuntutan hidup yang seringkali mengaburkan langkah kehidupan kita. Kesibukan yang selalu kita lakoni demi sang Uang, yang terus saja memaksa kita untuk bergulat dengan waktu dan berbagai macam cara untuk mendapatkannya.
Semilir sejuknya angin gunung, kicauan merdu burung-burung saat mentari muncul diufuk timur, keceriaan para petani saat berangkat kesawah, suara-suara lenguhan lembu pembajak sawah, canda-tawa anak-anak kecil yang pada mandi disungai, langit yang merah merona di sebelah barat, menjadi suasana yang begitu kita rindukan ditengah bisingnya kendaraan dan gemerlapnya lampu kota.
Yah…nyanyian rindu kang Ebiet, serasa mengingatkan aku dengan suasana-suasana masa lampau yang penuh kedamaian. Bersama orang-orang yang begitu berarti dalam perjalanan kehidupanku.
Bagaimana dengan Anda???
Subscribe to:
Posts (Atom)